Apa Kabar Yogyakarta – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Sekaten, salah satu tradisi besar yang menjadi warisan budaya Kesultanan Yogyakarta. Dalam rangkaian acara ini, pihak keraton mengumumkan bahwa kawasan wisata Kedhaton akan ditutup untuk umum selama satu hari. Penutupan dilakukan demi menjaga kekhidmatan prosesi adat sekaligus menghormati jalannya ritual keagamaan dan budaya.

Sekaten sebagai Tradisi Warisan
Sekaten merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang setiap tahun diperingati di Keraton Yogyakarta. Tradisi ini sarat dengan nilai religius sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang selalu dinantikan masyarakat. Rangkaian acaranya meliputi gamelan sekaten, doa bersama, hingga prosesi Garebeg Maulud yang biasanya menjadi puncak kegiatan.
Pihak keraton menegaskan bahwa meskipun wisatawan tidak dapat memasuki Kedhaton selama sehari, mereka tetap bisa menyaksikan beberapa rangkaian kegiatan Sekaten di area luar keraton.
Baca Juga : Sakralnya Gamelan Sekati Keraton Jogja, Hanya Ditabuh Saat Garebek Maulud
Respons Wisatawan dan Masyarakat
Pengumuman penutupan sementara wisata Kedhaton mendapat beragam tanggapan. Sebagian wisatawan yang sudah merencanakan kunjungan mengaku kecewa, namun mereka memahami pentingnya pelestarian budaya.
“Memang agak sayang karena sudah jauh-jauh ke Jogja, tapi ternyata tutup. Tapi saya juga senang bisa menyaksikan tradisi yang mungkin hanya ada di sini,” ujar seorang wisatawan asal Bandung.
Sementara itu, masyarakat lokal menyambut gembira karena prosesi adat tetap dilaksanakan penuh setelah sempat dibatasi pada masa pandemi.
Upaya Jaga Tradisi dan Wisata Budaya
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mendukung penuh pelaksanaan Hajad Dalem Sekaten. Tradisi ini dianggap bukan hanya ritual keraton, tetapi juga aset budaya nasional yang memperkaya pariwisata Jogja.
Dinas Pariwisata DIY mengimbau wisatawan menyesuaikan jadwal kunjungan. Sebagai alternatif, wisatawan tetap bisa berkunjung ke objek lain di sekitar keraton, seperti Alun-Alun Utara, Tamansari, atau Museum Sonobudoyo.
Harapan dari Penyelenggara
Pihak keraton berharap masyarakat luas dapat menghargai penutupan sementara ini dan menjadikan Sekaten sebagai ruang refleksi untuk mempererat spiritualitas sekaligus mengenal budaya Jawa.
“Tradisi ini bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan. Kami ingin generasi muda tetap terhubung dengan warisan leluhur,” ujar perwakilan keraton.












